Xiaomi

Rajanya Ponsel Entry Level, Mengapa Xiaomi Membanderol Murah Produknya?

Mendengar kata Xiaomi, mungkin yang seketika terlintas di benak Anda adalah vendor ponsel keluaran Negeri Tirai Bambu yang selalu menawarkan spesifikasi terbaik di kelasnya namun dengan harga sangat miring. Bahkan sudah banyak artikel yang mengulas, dengan spesifikasi dan fitur yang sama namun dari vendor yang lain pasti harganya terpaut jauh.

Tak mengherankan apabila banyak yang menobatkan Xiaomi sebagai rajanya ponsel entry level. Startup teknologi yang lahir pada tahun 2010 ini telah menarik perhatian banyak media internasional maupun pemerhati ponsel pintar. Banyak yang menyebut bahwa vendor ini sungguh berkomitmen pada specs-to-price ratio. Pertanyaannya, apakah Xiaomi betul-betul lebih murah dari kompetitor?

Dengan spesifikasi yang tidak main-main, sayangnya banyak yang masih kerap meragukan kualitas Xiaomi hanya karena harganya yang murah. Padahal, perbedaan harga yang cukup jauh antara Xiaomi dengan kompetitor ini bukan tanpa alasan. Berikut beberapa alasannya:

  1. Hemat ongkos promosi

Coba ingat-ingat kembali. Pernahkah Anda melihat iklan Xiaomi muncul di televisi? Atau ketika Anda sedang berkendara, pernahkah melihat promosi tipe terbaru Xiaomi dalam bentuk billboard, banner, maupun poster? Yap betul sekali, mereka memang tidak memanfaatkan jalur promosi konvensional layaknya vendor kompetitor. Dan ini efektif untuk memangkas harga menjadi lebih murah.

Seperti yang semua orang ketahui, beriklan di televisi tidaklah murah. Apalagi bila muncul di jam-jam strategis di mana banyak orang menonton tv, wah pasti harganya akan makin berlipat. Setiap kali kita melihat iklan ponsel muncul di tv, sesungguhnya biaya beriklan mereka dibebankan pada konsumen. Karena itulah harga mereka lebih mahal.

Menariknya lagi, di awal kemunculan produk ini, mereka tidak membuka toko fisik. Jadi selama beberapa tahun di awal, mereka mengandalkan penjualan secara daring. Hal ini terbukti sukses menjangkau pasar di seluruh dunia. Namun setelah ditinjau ulang, mereka memutuskan membuka gerai fisik demi meningkatkan brand awareness di kalangan masyarakat.

Strategi ini masih bertahan hingga kini. Meski akhirnya mereka membuka toko fisik, nyatanya perubahan harga yang ada tidak terlalu signifikan. Justru sebaliknya, toko fisik ini memudahkan Xiaomi dalam memperkuat kesadaran akan brand mereka di benak masyarakat. Tanpa iklan di media konvensional, tak banyak vendor melakukan strategi ini.

  1. Flash sale

Salah satu strategi penjualan lain yang dilakukan Xiaomi dalam konteks menekan harga jual adalah dengan melakukan flash sale atau penjualan dalam tempo terbatas. Strategi ini terbilang sukses besar karena mampu menekan harga jual ponsel dengan cara mengurangi biaya di level operasional hingga level strategi pemasaran.

Mengapa flash sale bisa menjadi salah satu strategi penjualan yang efektif? Dengan pembatasan waktu pembelian dan iming-iming harga lebih murah dapat meningkatkan angka permintaan agar jauh melampaui jumlah penawaran yang ada. Kondisi ini disebut “defisit semu” karena muncul persepsi seolah-olah produk yang ditawarkan sangat laku hingga tidak ada stok tersisa.

Berkat strategi bisnis yang diterapkan ini, Xiaomi mampu memberi penawaran ulang pada para pemasoknya supaya mau memberi harga murah setiap membeli bahan baku pembuatan ponsel pintar ini.

  1. Berani melakukan stok barang

Strategi lainnya yang diterapkan Xiaomi adalah berani melakukan stok barang dalam jumlah cukup banyak sehingga umur atau periode penjualan satu tipe produk cukup lama, bahkan mencapai 16-24 bulan.

Ternyata, alasan dibalik murahnya harga Xiaomi bukan karena kualitas produknya yang di bawah rata-rata ya! Tetapi memang mereka sangat lihai memainkan strategi pemasarannya. Sudah tidak ragu kan untuk beli ponsel Xiaomi?